BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang
Pendidikan merupakan suatu proses manusia
agar kelak dapat menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien.Selain itu pendidikan juga menjadi sebuah kebutuhan dari setiap manusia.Hal
itu menjadi kebutuhan karena dengan pendidikan manusiaakan dapat memecahkan masalah yang dihadapi dan menjadikan kualitas manusia tersebut lebih tinggi.
Proses dalam pendidikan yang
dapat meningkatkan kualitas diri manusia adalah kegiatan belajar-mengajar. Pada proses
belajar-mengajar ada yang menjadi orang yang belajar, yaitu siswa, serta ada yang
mengajar, yaitu guru. Ada empat unsur utama proses belajar-mengajar, yang
perlu disiapkan guru pada proses belajar-mengajar yaitu, tujuan, bahan,media, metode, dan penilaian.
Tujuan sebagai arah dari proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah rumusan tingkah laku
yang
diharapkan dapat dikuasai oleh siswa setelah menerima atau menempuh pengalaman belajarnya.
Bahan adalah seperangkat pengetahuan ilmiah yang dijabarkan dari kurikulum untuk disampaikan atau dibahas dalam
proses belajar-mengajar agar sampai kepada tujuan yang telah ditetapkan.
Media adalahalatbantu proses belajar-mengajaruntukmenstimuluspikiran, perasaan, perhatian, dankemampuansiswa. Metodeadalahcaraatauteknik yang digunakandalammencapaitujuan.Sedangkanpenilaianadalahupayaatautindakanuntukmengetahuisejauhmanatujuan yang telahditetapkanitutercapaiatautidak. Dengan kata lain, penilaianberfungsisebagaialatuntukmengetahuikeberhasilan proses danhasilbelajarsiswa.Prosesadalahkegiatan yang dilakukanolehsiswadalamtujuanpengajaran, sedangkanhasilbelajaradalahkemampuan-kemapuan yang dimilikisiswasetelahiamenerimapengalamanbelajarnya. Dalamsistempendidikannasionalrumusantujuanpendidikan, baiktujuankurikulum maupuntujuaninstruksional, menggunakanklasifikasihasilbelajardari Benyamin S, Bloom yang secaragarisbesarmembaginyamenjaditigaranahyakniranahkognitif, ranahafektifdanranahpsikomotoris.
Media adalahalatbantu proses belajar-mengajaruntukmenstimuluspikiran, perasaan, perhatian, dankemampuansiswa. Metodeadalahcaraatauteknik yang digunakandalammencapaitujuan.Sedangkanpenilaianadalahupayaatautindakanuntukmengetahuisejauhmanatujuan yang telahditetapkanitutercapaiatautidak. Dengan kata lain, penilaianberfungsisebagaialatuntukmengetahuikeberhasilan proses danhasilbelajarsiswa.Prosesadalahkegiatan yang dilakukanolehsiswadalamtujuanpengajaran, sedangkanhasilbelajaradalahkemampuan-kemapuan yang dimilikisiswasetelahiamenerimapengalamanbelajarnya. Dalamsistempendidikannasionalrumusantujuanpendidikan, baiktujuankurikulum maupuntujuaninstruksional, menggunakanklasifikasihasilbelajardari Benyamin S, Bloom yang secaragarisbesarmembaginyamenjaditigaranahyakniranahkognitif, ranahafektifdanranahpsikomotoris.
Setelahmelakukan guru
mengambilkeputusanterhadapkemampuansiswa. Guru
akanmempertimbangkamemberikanpenguatandalambentuklembarkerjasiswaatau LKS. LKS
sebagai media pembelajaran yang berisimateri ajar yang beruparangkuman yang
tetapmencakuptujuanpembelajarandanterdapatsoal-soallatihan yang dikerjakan.
Laluapaketerkaitan LKS berisisoal-soal yang dapatmengukurkemampuansiswa. LKS
jugadapatmenjadialatukurpenilaiankompetensisiswa.Sebagaialatukurkompetensisiswadibuatoleh guru.ApakahTaksonomi
Bloom juga digunakandenganpenulisan
LKS?Hal inimenarikkarenauntukmengukurkompetensimenggunakanTaksonomi
Bloom.Masalahtersebutakandibahasdalammakalahini.
1.2
RumusanMasalah
Berdasarkanlatarbelakangdiatasdapatdirumuskanpermasalahan
yang akandibahassebagaiberikut:
1.
ApaituTaksonomi Bloom?
2. Apa saja ranah-ranah yang ada padaTaksonomi Bloom?
3.
ApaketerkaitanantaraTaksonomi
Bloomdenganpenulisan LKS?
1.3
TujuanPenulisan
Berdasarkanrumusanmasalahdiatasdapattujuanmasalah
yang akandibahassebagaiberikut:
1.
UntukmengetahuiTaksonomi Bloom.
2.
Untukmendeskripsikan
ranah-ranah yang adapadaTaksonomi Bloom.
3.
UntukmendeskripsikanketerkaitanantaraTaksonomi
Bloom denganpenulisan LKS.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Taksonomi Bloom
Kata
taksonomi diambil dari bahasa Yunani yaitu “tassein” yang
berarti untuk meng-klasifikasi dan “nomos” yang berarti
aturan.Taksonomi dapat diartikan sebagai klasifikasi berhirarki dari sesuatu,
atau prinsip yang mendasari klasifikasi.Di
mana taksonomi yang lebih tinggi bersifat lebih umum dan taksonomi yang lebih
rendah bersifat lebih spesifik.Semua hal yang bergerak, benda diam, tempat, dan
kejadian, sampai pada kemampuan berfikir dapat diklasifikasikan menurut
beberapa skema taksonomi.
Dalam
pendidikan, taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam
hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif,
afektif, dan psikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi
beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat),
mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling
kompleks.Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah
laku dari tingkat yang lebih rendah.
Taksonomi
ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom dan kawan-kawan pada tahun
1956, sehingga sering pula disebut sebagai "Taksonomi Bloom".Taksonomi
Bloom merujuk pada tujuan pembelajaran yang diharapkan agar dengan adanya
taksonomi ini para pendidik dapat mengetahui secara jelas dan pasti apakah
tujuan instruksional pelajaran bersifat kognitif, afektif atau
psikomotor.Taksonomi berarti klasifikasi berhirarki dari sesuatu atau prinsip
yang mendasari klasifikasi.
2.2 Ranah-Ranah dalam Taksonomi Bloom
1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif)
Cognitive Domain adalah yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek
intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.Ranah
kognitif meliputi fungsi memproses informasi, pengetahuan dan keahlian
mentalitas.Ranah kognitif menggolongkan dan mengurutkan keahlian berpikir yang
menggambarkan tujuan yang diharapkan. Proses berpikir mengekspresikan
tahap-tahap kemampuan yang harus siswa kuasai sehingga dapat menunjukan
kemampuan mengolah pikirannya sehingga mampu mengaplikasikan teori ke dalam
perbuatan. Mengubah teori ke dalam keterampilan terbaiknya sehingga dapat
menghasilkan sesuatu yang baru sebagai produk inovasi pikirannya.
Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan.
Domain ini terdiri dari dua bagian: Bagian pertama berupa Pengetahuan (kategori
1) dan bagian kedua berupa Kemampuan dan Keterampilan Intelektual (kategori
2-6).
a. Pengetahuan ( Knowledge ).
Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat
peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip
dasar, dan sebagainya. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen
kualitas, orang yang berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi
dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum
untuk produk, dan sebagainya.
b. Pemahaman ( Comprehension ).
Dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran,
laporan, tabel, diagram, arahan, peraturan, dan sebagainya. Sebagai contoh,
orang di level ini bisa memahami apa yang diuraikan dalam fish bone
diagram, pareto chart, dan sebagainya.
c. Aplikasi ( Application ).
Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk
menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dan sebagainya di dalam
kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab
meningkatnya reject di produksi, seseorang yang berada di
tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya
kualitas dalam bentuk fish bone diagram.
d. Analisis ( Analysis ).
Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa
informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam
bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu
mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yang
rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab
meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap
penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yang
ditimbulkan.
e. Sintesis ( Synthesis ).
Satu tingkat di atas analisa, seseorang di tingkat
sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang
sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus
didapat untuk menghasilkan solusi yang dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat
ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di
produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas
produk.
f. Evaluasi ( Evaluation )
Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian
terhadap solusi, gagasan, metodologi, dan sebagainya dengan menggunakan
kriteria yang cocok atau standar yang ada untuk memastikan nilai efektivitas
atau manfaatnya.Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus
mampu menilai alternatif solusi yang sesuai untuk dijalankan berdasarkan
efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dan sebagainya.
2. Affective Domain (Ranah Afektif)
Affective Domain berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi,
seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Pembagian domain
ini disusun Bloom bersama dengan David Krathwol.
a. Penerimaan ( Receiving/Attending ).
Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di
lingkungannya.Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian,
mempertahankannya, dan mengarahkannya.
b. Tanggapan ( Responding ).
Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di
lingkungannya.Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan
tanggapan.
c. Penghargaan ( Valuing ).
Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada
suatu objek, fenomena, atau tingkah laku.Penilaian berdasar pada internalisasi
dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.
d. Pengorganisasian ( Organization )
Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan
konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.
e. Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Value
Complex)
Memiliki sistem nilai yang mengendalikan
tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.
3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor).
Psychomotor Domain berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik
seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin,dan
lain-lain.
Rincian dalam domain ini tidak dibuat oleh Bloom, tapi
oleh ahli lain berdasarkan domain yang dibuat Bloom.
a. Persepsi (Perception)
Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam
membantu gerakan.
b. Kesiapan (Set).
Kesiapan fisik, mental, dan
emosional untuk melakukan gerakan.
c. Merespon (Guided Response).
Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks,
termasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.
d. Mekanisme ( Mechanism ).
Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari
sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap.
e. Respon Tampak yang Kompleks ( Complex
Overt Response ).
Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri
dari pola-pola gerakan yang kompleks.
f. Penyesuaian ( Adaptation ).
Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat
disesuaikan dalam berbagai situasi.
g. Penciptaan ( Origination ).
Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan
situasi atau permasalahan tertentu.
2.3 Taksonomi Bloom pada
Lembar Kerja Siswa
Sebelumnya diketahui bahwa taksonomi bloom
meliputi 3 ranah yaitu afektif, kognisi dan psikomotor. Pada sub bab ini kami
akan memaparkannya satu persatu.
§ Afektif
Afektif ialah perilaku-perilaku yang
menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara
penyesuaian diri. Aspek afektif ini haruslah tertanam pada sebuah LKS karena
bagaimana peserta didik belajar mengendalikan dan menanamkan sikap maupun
mental dalam kehidupan sehari-hari.
Ranah afektif meliputi lima jenjang kemapuan yaitu:
a)
Meneriama, yakni semacam kepekaan
dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada siswa dalam
bentuk masalah, situasi, gejala, dll.
b)
Menjawab, yakni reaksi yang
diberikan oleh seseorang terhadap stimulasi yang datang dari luar
c)
Menilai, yaitu yang berkenaan dengan
nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus.
d)
Organisasi, yakni pengembangan dari
nilai kedalam satu sistem organisasi, termasuk hubungan satu nilai dengan nilai
lain, pemantapan dan prioritas nilai yang telah dimilikinya.
e)
Karakteristik nilai atau
internalisasi nilai, yakni keterpaduan sistem nilai yang telah dimiliki sesorang
, yang mempengaruhi kepribadian dan tingkah lakunya.
§
Kognisi
Berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek
intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.Ranah
kognitif meliputi fungsi memproses informasi dan pengetahuan.Jelas pada sebuah
LKS, aspek ini haruslah ada, karena aspek iniah yang menjadi sumber informasi
dan materi yang ada pada sebuah LKS.Tanpa aspek ini maka sebuah LKS hanya
sekedar tampat latihan menjawab soal-soal saja tanpa adanya teori dan materi
yang membantu.
Istilah pengetahuan dimaksudkan sebagai terjemahan
dari kataknowledge dalam taksonomi Bloom, pengetahuan adalah aspek yang paling
dasar dalam taksonomi Bloom.Namun, tipe hasil belajar ini menjadi prasarat bagi
tipe hasil belajar berikutnya.Dalam jenjang kemampuan ini seseorang di tuntut
untuk dapat mengenali atau mengetahui adanya konsep, fakta, dll tanpa harus
mengetahui atau dapat menggunakannya. Bentuk soal yang sesuai untuk mengukur
kemampuan ini antara lain: benar-salah, menjodohkan isian atau jawaban singkat
dan pilihan ganda.
§ Psikomotor
Berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan.Hasil belajar psikomotoris tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan
kemampuan bertindak individu. Ranah psikomotoris meliputi tiga tingkatan
keterampilan yakni :
a)
Keterampilan motorik (muscular
or motor skills) yaitu: memperlihatkan gerak, menunjukan hasil,
menggerakan, menampilkan, melompat dan sebagainya.
b)
Manipulasi benda (manipulation
of materials or objects) : menyusun, membentuk, memindahkan, menggeser,
mereparasi, dan sebagainya.
c)
Koordinasi neuromuscular,
menghubungkan, mengamati, memotong dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalampendidikan,
taksonomidibuatuntukmengklasifikasikantujuanpendidikan. Dalamhalini,
tujuanpendidikandibagimenjadibeberapa domain, yaitu: kognitif, afektif,
danpsikomotor. Dari
setiapranahtersebutdibagikembalimenjadibeberapakategoridansubkategori yang
berurutansecarahirarkis (bertingkat), mulaidaritingkahlaku yang
sederhanasampaitingkahlaku yang paling kompleks.
Tingkahlakudalamsetiaptingkatdiasumsikanmenyertakanjugatingkahlakudaritingkat
yang lebihrendah.
DAFTAR PUSTAKA
Ari Kunto Suharsisni, “Dasar-Dasar Evaluasi
Pendidikan”, Bumi Aksara ; jakarta : 2012
Sanjaya Wina, “ Perencanaan& Desain Sistem
Pembelajaran”, Kencana Prenada Media Grup ; jakarta : 2010
Sudjana Nana, “Penilaian Hasil Proses Belajar
Mengajar” , PT.Remaja Rusda Karya ; Bandung : 2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar